jump to navigation

GLOBAL WARMING OR GLOBAL WARNING ? Juli 13, 2009

Posted by luqman hakim in berita.
trackback

(Mengupas Sisi Tak terungkap Di Balik Pengembangan Bioenergi)

Di bulan Desember 2007 ini sedang diadakan KTT Climate Change Conference di Bali, Indonesia yang dihadiri perwakilan dari 180 negara di dunia.  Konferensi tersebut membahas tentang langkah-langkah yang harus diambil guna mengantisipasi dampak yang lebih besar yang akan ditimbulkan akibat pemanasan global.

Pemanasan global merupakan akibat yang dipicu oleh kegiatan manusia terutama yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil (BBF) dan kegiatan alih-guna lahan. Kegiatan tersebut dapat menghasilkan gas-gas yang makin lama makin banyak jumlahnya di atmosfer. Gas-gas tersebut di antaranya adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O). Gas-gas tersebut memiliki sifat seperti kaca yang meneruskan radiasi gelombang pendek atau cahaya matahari, tetapi menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang atau radiasi balik yang dipancarkan bumi bersifat panas sehingga suhu atmosfer bumi meningkat. Berada di bumi yang diliputi gas-gas tersebut seperti berada dalam rumah kaca yang selalu lebih panas dibandingkan suhu udara di luarnya. Oleh karena itu, gas-gas tersebut dinamakan gas rumah kaca (GRK) dan pengaruh yang ditimbulkan dikenal dengan nama efek rumah kaca yang selanjutnya menimbulkan pemanasan global dan perubahan iklim serta rentetan dampak lainnya di planet bumi.

Berdasarkan data peningkatan emisi GRK di atmosfer, para ahli cuaca internasional memperkirakan bahwa planet bumi bakal mengalami kenaikan suhu rata-rata 3,5oC memasuki abad mendatang sebagai efek akumulasi penumpukan gas tersebut.  Bencana yang muncul cukup mencemaskan antara lain kenaikan permukaan laut akibat proses pencairan es di kutub, perubahan pola angin, meningkatnya badai atmosferik, bertambahnya populasi dan jenis organisme penyebab penyakit, perubahan pola curah hujan dan siklus hidrologi serta perubahan ekosistem hutan, daratan dan ekosistem lainnya.

Simulasi model yang dilakukan oleh pakar lingkungan Inggris memperkirakan lebih dari sejuta species akan terancam punah pada 2050, sedangkan species yang masih bertahan tidak akan lagi memiliki habitat yang nyaman untuk hidup, sementara sebagian lainnya harus bermigrasi cukup jauh untuk memperoleh tempat hidup yang sesuai guna mendukung kehidupannya.  Bukti-bukti ilmiah yang telah dikumpulkan para pakar lingkungan dunia selama bertahun-tahun banyak membantu memperjelas fenomena alam ini, dan hasilnya cukup mengejutkan seperti di Indonesia telah terjadi musim kering berkepanjangan, badai tropis yang berujung pada terbakarnya hutan jutaan hektar serta presipitasi hujan yang tinggi mengakibatkan bencana banjir dan kegagalan panen.

Bencana terakhir yang terjadi di negara kita adalah gelombang pasang yang memporak-porandakan pemukiman warga di sepanjang pantai selatan pulau Jawa-Bali dan Sumatera. Bencana tersebut walaupun tidak menelan korban jiwa namun tidak sedikit kerugian yang harus diterima oleh masyarakat pesisir.  Dikhawatirkan 30 tahun ke depan, pulau-pulau kecil di Indonesia akan menghilang karena naiknya permukaan air laut.  Inilah sebagia kecil dampak yang akan ditimbulkan dari pemanasan global.

Pemanasan global ternyata juga mulai memicu munculnya beberapa serangan penyakit yang sebelumnya belum pernah ada pada daerah tertentu.  Pada 1997 di Papua, penyakit malaria terdeteksi untuk pertama kalinya pada pemukiman di ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut.

Pada awalnya, masalah lingkungan kurang mendapat perhatian serius bagi masyarakat dunia pada umumnya karena dampak yang ditimbulkan belum terasa.  Tetapi seiring dengan perubahan waktu dan semakin banyaknya fenomena alam yang terjadi dan belum dapat dijelaskan secara ilmiah, orang-orang mulai memperhatikan masalah lingkungan.

Pada tahun 1972 di Stockholm, diadakan Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia (Human Environmental), masyarakat internasional bertemu pertama kalinya untuk membahas situasi lingkungan hidup secara global. Kemudian pada peringatan ke-20 tahun pertemuan Stockholm tersebut, digelarlah konferensi bumi di Rio de Jainero tahun 1992. Di konferensi ini ditandatanganilah Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim, United Nations Framework Convention of  Climate Change (UNFCCC) yang tujuan untuk menstabilkan konsentrasi GRK di atmosfer hingga berada di tingkat aman.

Desember 1997 di Kyoto, Jepang ditandatangani Protokol Kyoto oleh 84 negara dan tetap terbuka untuk ditandatangani/diaksesi sampai Maret 1999 oleh negara-negara lain di Markas Besar PBB, New York.  Protokol ini berkomitmen bagi 38 negara industri untuk memotong emisi GRK mereka antara tahun 2008 sampai 2012 menjadi 5,2% di bawah tingkat GRK mereka di tahun 1990.

Ada tiga mekanisme yang diatur di Protokol Kyoto ini yaitu berupa: Joint Implementation (implementasi bersama) yaitu kerja sama antar negara maju untuk mengurangi emisi GRK; Clean Development Mechanism, CDM (Mekanisme Pembangunan Bersih) adalah win-win solution antara negara maju dan negara berkembang, di mana negara maju berinvestasi di negara berkembang dalam proyek yang dapat megurangi emisi GRK dengan imbalan sertifikat pengurangan emisi, CER (Certificate Emmision Reduction) bagi negara maju tersebut; dan Emission Trading (Perdagangan emisi) adalah perdangan emisi antar negara maju.

Pada bulan Desember 2004, Indonesia akhirnya meratifikasi Protokol Kyoto melalui UU No 17 tahun 2004.  Keuntungan yang didapat Indoensia dari Protokol Kyoto adalah memperoleh bantuan dana. Dengan bantaun tersebut  Indonesia diharapkan bisa meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.  Lewat CDM, Indonesia memiliki potensi pengurangan emisi sampai sebesar 300 juta ton dan diperkirakan bernilai US$ 1,26 miliar. Kegiatan CDM lainnya yang tengah dipersiapkan di Indonesia adalah mengganti pembangkit listrik batubara dengan geoterma, dan efisiensi energi untuk produksi pabrik Indocement.

Bila melihat fakta yang terjadi, penghasil terbesar GRK adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll, ini diakibatkan oleh  konsumsi  migas yang besar.  Karena mereka miskin sumberdaya migas sehingga terpaksa harus mengekploitasi negara-negara berkembang.  Tapi anehnya, tahun 2001 Amerika Serikat berkeputusan untuk menarik dukungannya terhadap Protokol Kyoto.

Pada 16 Februari 2005 lalu, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang Protokol Kyoto akhirnya berkekuatan hukum secara internasional, meski demikian Amerika Serikat tetap tidak meratifikasi Protokol Kyoto tersebut, padahal Amerika Serikat merupakan kontributor emisi terbesar di dunia.

Dunia internasional saat ini pun sedang berlomba-lomba menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan untuk mengimplementasikan komitmen Protokol Kyoto dan isu pemanasan global mengenai CDM.  Salah satu solusi untuk berbagai hal tersebut adalah biodiesel.  Biodiesel sudah dikembangkan di Indonesia sejak tahun 1980-an. Tetapi kurang diminati oleh masyarakat. Setelah adanya  isu pemanasan global dan perubahan iklim, energi baru ini menjadi perhatian.

Di Indonesia, telah dikeluarkan Inpres No 1/2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai Bahan Bakar Lain. Sebagai tindak lanjutnya, disusun Program Aksi BBN yang melibatkan berbagai Instansi, dalam koordinasi Menteri Koordinator Perekonomian, Keuangan, dan Industri.  Bahkan  telah ada pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) di berbagai daerah termasuk Kawasan  Timur Indonesia. Beberapa hal yang perlu dicermati bahwa beberapa kawasan pengembangan jarak pagar (Jatropa curcas L) di Indonesia khususnya Kawasan Timur Indonesia adalah daerah lumbung  padi seperti Kabupaten Wajo, Maros, Sidrap Di Sulawesi Selatan dan Konawe di Sulawesi Tenggara yang menjadi perencanaan daerah Mandiri energi.

Desa mandiri energi adalah desa yang dapat memproduksi sendiri kebutuhan energinya dan tidak lagi bergantung dari pihak yang lain. Sasaran utama program DME adalah wilayah pedesaan dan wilayah yang terisolir. Fokus pengembangan DME adalah pengembangan BBN dalam skala kecil sesuai dengan potensi daerah.

Saat ini program DME dengan pengembangan boenergi melalui budidaya tanaman jarak menggunakan model inti plasma. Dimana perusahaan-perusahaan yang menanamkan modalnya dalam pengembangan bioenergi ini berfungsi sebagai inti, sedangkan kelompok tani di desa-desa sekitar DME sebagai plasma.

Sebagian kalangan yang pro menilai bahwa dengan adanya pengembangan bioenergi sebagai bahan bakar alternatif dapat melindungi kelestarian lingkungan karena lebih ramah lingkungan, mengurangi polusi, mengurangi ketergantungan, meningkatkan devisa negara, dan mampu mengembangkan ekonomi pedesaan. Sementara, pada pihak yang kontra dengan adanya pengembangan bioenergi sebagai energi alternatif karena kekhawatiran akan dampak pengembangannya dapat merugikan pihak Indonesia. Dengan demikian, banyak hal yang perlu di kaji lebih lanjut terkait dengan pemanfaatan bioenergi sebagai energi alternatif yang akan menggantikan minyak bumi dan gas sebagai energi utama masyarakat Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

Kondisi yang terjadi saat ini, dengan adanya upaya pengembangan bioenergi sebagai energi alternatif  memunculkan berbagai permasalahan, antara lain benih-benih atau input dari jarak dan kelapa sawit relatif mahal bagi masyarakat, pasar atau sasaran pengembangan bioenergi belum jelas, dan lahan yang seharusnya dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan dialihfungsikan oleh perusahaan-perusahaan besar atau swasta untuk pengembangan  bioenergi, (bioethanol dan biodiesel). Banyak perusahaan-perusahaan besar yang memanfaatkan peluang pengembangan bioenergi untuk kepentingan perusahaannya sendiri, sehingga harapan pemerintah bahwa ekonomi pedesaan mampu lebih ditingkatkan dengan adanya pengembangan bioenergi, merupakan hal yang sangat kontradiktif dengan fakta yang terjadi.

Kurangnya informasi dan konsep yang jelas pada masyarakat dalam hal ini petani dalam proses pengembangan bioenergi, terutama keterlibatan mereka selaku subyek pelaksana yang akan melakukan proses budidaya dan produksi.  Selain itu isu kelangkaan energi bahan bakar akan menjadikan harga-harga kebutuhan hidup yang lain meningkat. Oleh karenanya, ketika solusi pengembangan energi alternatif tidak dapat dirasakan oleh seluruh komponen masyarakat Indonesia, dalam hal ini petani, maka kondisi ketahanan pangan nasional  juga akan semakin memburuk sehingga imbas langsung akan sangat berkaitan erat dengan kedaulatan sebuah bangsa (ketahanan nasional) karena begitu tergantungnya kita pada asing dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: