jump to navigation

Kontrol Inflasi Sisihkan Kepentingan Bisnis Agustus 6, 2008

Posted by luqman hakim in berita.
trackback

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat menilai langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate menjadi 9%, menunjukkan bahwa pemerintah lebih mementingkan pengendalian inflasi.

Sementara itu, risiko beban kredit yang harus ditanggung masyarakat, terutama dunia usaha, tidak terlalu diperhitungkan. ”Kenaikan BI Rate merupakan bukti bahwa pemerintah tidak mau ambil risiko dalam mengendalikan laju inflasi,” ujar Hidayat di Jakarta kemarin.

Hidayat menambahkan, kenaikan BI Rate bakal mendorong biaya dana kalangan dunia usaha. Kenaikan BI Rate hingga 9% bakal mendorong lending rate hingga 20%. ”Artinya, orang tidak akan mudah untuk mendapatkan kredit perbankan akibat dampak kebijakan tight money policy yang pemerintah lakukan,”kata dia. Hidayat mengatakan, Kadin berharap pemerintah mampu meredam gejolak inflasi tanpa harus selalu mengandalkan instrumen kenaikan suku bunga.

Kadin meminta BI Rate ditahan pada posisi 9% hingga akhir 2008. Kemarin, Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 0,25% dari 8,75% menjadi 9%. ”BI masih melihat adanya risiko tekanan inflasi ke depan yang bersumber dari gejolak harga minyak dan pangan dunia, serta tekanan permintaan,” jelas Gubernur BI Boediono.

BI berkeyakinan putusan tersebut tidak akan mengganggu aktivitas perekonomian nasional. BI juga memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia masih akan menunjukkan kinerja yang meningkat sehingga kestabilan nilai tukar juga dapat terjaga dengan baik. Sementara cadangan devisa hingga akhir Juli 2008 tercatat USD60,56 miliar atau setara dengan 4,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

BI juga memperhitungkan bahwa inflasi akhir tahun sekitar 11,5-12,5%. Ekonom Senior BNI Ryan Kiryanto menilai putusan BI menaikkan BI Rate menjadi 9% sudah tepat.Kenaikan BI Rate menurut dia, juga tidak akan menurunkan tingkat permintaan kredit.

Sebab, dampak kenaikan harga bahan bakar minyak sudah tidak dirasakan lagi dan harga minyak dunia cenderung bertahan sekitar USD120-an per barel. ”Yang pasti, kenaikan BI Rate kali ini sudah diantisipasi oleh bank-bank dengan menyesuaikan suku bunga, baik dana dan kredit, pada kisaran 0,5–1,0% setelah pada bulan-bulan lalu bank-bank belum melakukan penyesuaian,”ujar dia. 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: